Tentara China yang Menyamar Jadi Peneliti di AS

Tentara China yang Menyamar Jadi Peneliti di AS

Tentara China yang Menyamar Jadi Peneliti di AS

Tentara China yang Menyamar Jadi Peneliti di AS – Di tengah memanasnya hubungan China-AS, Amerika menangkap seorang peneliti yang menyamar jadi agen mata-mata China.

Seorang peneliti China yang dicurigai sebagai mata-mata ditangkap di bandara Los Angeles, Amerika Serikat ( AS), Minggu waktu setempat.

Ia diamankan pihak berwenang saat hendak meninggalkan Negeri “Paman Sam”.

FBI (Biro Investigasi Federal) Amerika Serikat (AS) telah menangkap tiga warga negara China atas tuduhan penipuan visa. Penangkapan ini dikonfirmasi Departemen Kehakiman setelah Amerika menutup paksa kantor Konsulat Jenderal China di Houston.

Orang keempat China yang diburu FBI masih buron. Menurut Departemen Kehakiman Amerika, orang tersebut bersembunyi di Konsulat China di San Francisco.

Menurut departemen itu, keempat orang termasuk tiga yang sudah ditangkap diyakini sebagai anggota tentara militer Beijing yang menyamar sebagai peneliti. (Baca: Konsulatnya Diperintahkan Ditutup, China Murka dan Ancam Balas AS)

FBI, lanjut Departemen Kehakiman, baru-baru ini menginterogasi pemegang visa yang diyakini anggota militer China di lebih dari 25 kota di AS.

Laporan ini diumumkan oleh Kantor Pengacara AS di San Francisco dan FBI dalam pernyataan bersama.

Pihak berwenang mengatakan, Wang masuk AS pada Maret 2019 dengan menyamar sebagai peneliti medis yang akan melakukan penelitian ilmiah di University of California, San Francisco (UCSF).

Tetapi saat ditanyai oleh agen Bea Cukai dan Patroli Perbatasan (CBP) di bandara, Wang mengakui dirinya adalah anggota Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA), dan dipekerjakan oleh laboratorium universitas militer.

Menurut dokumen pengadilan, Wang berkata ke agen CBP bahwa ia telah diperintahkan oleh atasannya di China.

Aksi FBI ini dianggap para para ahli tindakan keras paling terkenal Amerika terhadap pencurian know-how (pengetahuan) AS dalam lebih dari 40 tahun hubungan kedua negara.

Pengumuman Departemen Kehakiman kemungkinan akan memicu ketegangan baru antara dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia yang telah memanas sejak pemerintah Trump memerintahkan China untuk menutup konsulatnya di Houston, Texas, paling lambat pada hari Jumat.

Pemerintah Amerika telah mengintensifkan tuduhan bahwa China menggunakan operasi dunia maya dan spionase untuk mencuri teknologi, militer, dan pengetahuan AS lainnya dalam strategi untuk menggantikan Amerika Serikat sebagai kekuatan finansial dan militer terkemuka di dunia. Beijing membantah tuduhan itu.

“Anggota Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China ini mengajukan permohonan visa penelitian sambil menyembunyikan afiliasi mereka yang sebenarnya dengan PLA,” bunyi pernyataan Departemen Kehakiman Amerika mengutip Asisten Jaksa Agung John Demers, seperti dikutip Reuters.

Comments are closed.