Jepang Buka Lockdown Untuk Domestik

Jepang Buka Lockdown Untuk Domestik

Jepang Buka Lockdown Untuk Domestik dan Perekonomian Tokyo

Jepang Buka Lockdown – Perdana Menteri Shinzo Abe mulai menyerukan seluruh warga untuk pergi keluar hingga Daftar S128 menghadiri konser setelah beberapa bulan tertahan serangkaian pembatasan pergerakan yang diterapkan pemerintah untuk menekan penularan corona.

Meski begitu, Abe tetap menekankan kepada seluruh masyarakat untuk terus waspada dan menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak setiap bepergian keluar terutama ke tempat keramaian.

Dua maskapai penerbangan besar Jepang, ANA Holdings dan Japan Airlines Co, mulai kembali beroperasi dengan membuka beberapa penerbangan domestik menyusul peningkatan bepergian meningkat. Meski begitu, kedua maskapai menuturkan jumlah penerbangan hingga Juli mendatang diperkirakan masih terbatas.

Jepang juga mulai mengizinkan acara-acara publik dengan massa hingga 1.000 orang berkumpul di dalam ruangan maupun ruang terbuka.

Sejumlah turnamen olahraga juga kembali di mulai. Tim baseball profesional Jepang juga akan memulai kembali pertandingan mereka hari ini meski masih tanpa penonton.

Meski pemerintah sudah mulai mengizinkan hampir seluruh kegiatan ekonomi dan sosial berjalan normal, beberapa pihak menuturkan sebagian besar masyarakat masih menghindari keramaian dan bepergian.

Menurut Organisasi Pariwisata Nasional Jepang hanya ada 1.700 turis asing yang tiba di Jepang sejak Mei lalu. Jumlah itu merupakan yang terendah sejak 1964.

Perekonomian Tokyo Pulih

Jepang memang dinilai berhasil menekan penularan virus corona. Meski begitu, beberapa kasus baru virus corona sempat muncul dalam beberapa pekan terakhir hingga memicu kekhawatiran masih ada risiko penularan Covid-19 gelombang kedua di negara itu.

Tidak seperti negara lain yang memberlakukan lockdown ketat, Jepang tidak memaksa pusat-pusat bisnis untuk tutup selama pandemi Corona. Restoran hingga salon tetap buka. Tidak ada aplikasi canggih untuk melacak pergerakan orang-orang. Jepang juga tidak memiliki pusat untuk pengendalian virus Corona.

Laporan Bloomberg menyebut bahwa Jepang sejauh ini hanya memeriksa sekitar 0,2 persen dari total populasi. Angka ini tergolong salah satu yang terendah di jalangan negara-negara maju di dunia. Namun tetap, kurva penyebaran virus Corona di Jepang berhasil diratakan dengan total kematian ada di bawah 1.000 orang. Jepang, sejauh ini, menjadi negara anggota G7 dengan total kematian terendah.

Sementara itu, seperti dilansir BBC, PM Abe memuji ‘model Jepang’, yang disebutnya bisa mengendalikan wabah dalam 6 minggu tanpa ada lockdown ketat, seperti di negara lain. Namun, dia memperingatkan bahwa ‘dalam skenario terburuk, ada kemungkinan untuk menerapkan kembali keadaan darurat jika jumlah infeksi meningkat lagi’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *