AS-Israel Menolak Sepakati Resolusi Penanganan Corona

AS-Israel Menolak Sepakati Resolusi Penanganan Corona

AS-Israel Menolak Sepakati Resolusi Penanganan Corona

AS-Israel Menolak Sepakati Resolusi Penanganan Corona, – Amerika Serikat (AS) dan Israel menolak menyepakati resolusi tertulis PBB mengenai penanganan pandemi virus corona (Covid-19) secara komprehensif dan terkoordinasi. Padahal resolusi ini disepakati oleh 169 dari 193 negara anggota.

Dalam resolusi tersebut, PBB mengakui peran Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pemimpin penanganan pandemi. Ini bertentangan dengan kebijakan AS, di mana Negeri Paman Sam telah keluar dari keanggotaan WHO.

Bahkan, AS menuding lembaga tersebut salah mengelola pandemi, termasuk terlambat memberikan peringatan global.

Terdapat dua negara yang memilih abstain dalam pemungutan suara, yakni Ukraina dan Hongaria, sedangkan Amerika Serikat dan Israel menolak.

Dalam resolusi tersebut, PBB mengakui peran Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pemimpin penanganan pandemi. Hal ini bertentangan dengan AS yang telah keluar dari keanggotaan WHO beberapa waktu lalu dan menuding lembaga tersebut salah mengelola pandemi, termasuk terlambat memberikan peringatan global.

Disebutkan jika setiap negara harus menghapus hambatan yang tidak dapat dibenarkan dalam penanganan pandemi. Hal ini berarti, kesepakatan tersebut bisa menetapkan sanksi kepada negara yang menghambat penanganan virus.

PBB juga meminta setiap negara mempertahankan rantai pasokan pangan dan pertanian. PBB menyerukan agar semua negara mendorong sinkronisasi strategi pemulihan ekonomi, mempromosikan pembangunan berkelanjutan, dan memerangi perubahan iklim.

“Mengakui peran penting kepemimpinan WHO dan peran fundamental PBB dalam mempercepat dan mengkoordinasikan penanganan pandemi Covid-19 yang komprehensif,” demikian bunyi naskah resolusi tersebut dikutip http://utowndc.com/, Sabtu.

Menjelang pemungutan suara, AS bersama Libya dan Irak berupaya menghapus paragraf tentang perlindungan kesehatan seksual dan reproduksi pada perempuan karena keberatan akan pelaksanaan aborsi.

Namun upaya tersebut gagal karena lebih dari 120 negara memilih mempertahankan aturan tersebut, dan 25 negara abstain.

Melalui teks tersebut, PBB menyerukan setiap negara dan lembaga internasional bekerja sama dalam mengatasi dan menahan laju pandemi. Ini sejalan dengan seruan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Gutierres Maret lalu yang meminta negara-negara melakukan gencatan senjata dan berfokus pada perang melawan pandemi.

Resolusi tersebut juga menginstruksikan agar setiap negara menghapus hambatan yang tidak dapat dibenarkan dalam penanganan pandemi. Ini artinya, perjanjian ini dapat menetapkan sanksi kepada negara yang menghambat penanganan virus.

PBB kemudian meminta setiap negara mempertahankan rantai pasokan pangan dan pertanian, serta mendorong sinkronisasi strategi pemulihan ekonomi. Mempromosikan pembangunan berkelanjutan dan memerangi perubahan iklim.

Comments are closed.