Akulturasi Kuliner Indonesia dan Eropa

Akulturasi Kuliner Indonesia dan Eropa

Akulturasi Kuliner Indonesia dan Eropa, Ini Fakta Menariknya

Akulturasi Kuliner Indonesia dan Eropa –  Kehadiran bangsa Belanda di Pulau Jawa menciptakan pertemuan dua budaya yang berbeda jauh antara budaya Eropa dangan budaya Jawa. Kebudayaan sendiri adalah suatu keseluruhan sistem gagasan. Tindakan dan merupakan hasil karya dari pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, adat-istiadat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Kamu tahu kan kalau Indonesia terkenal dengan kulinernya yang beragam? Namun, tidak semua kuliner tersebut asli buatan orang Indonesia lho. Banyak makanan khas Indonesia yang ternyata hasil akulturasi dari Eropa, tepatnya bangsa Belanda.

Penamaannya pun sering kali diambil dari bahasa Belanda. Salah satu contoh yang sering didengar adalah kue nastar. Faktanya, nama kuliner khas lebaran ini diambil dari bahasa Belanda, yakni ananas dan tart yang berarti tart nanas.

Selain itu, banyak lagi fakta menarik yang kamu harus tahu di balik akulturasi kuliner di Indonesia. Berikut faktanya.

Peran wanita pribumi yang dinikahi oleh bangsawan Belanda

Dari musuh malah jadi suami, inilah kesan yang dirasakan wanita Indonesia yang dinikahi pria Belanda. Di samping itu, mereka memiliki peran penting dalam proses akulturasi kuliner di Indonesia.

Proses ini dimulai dari penyebaran resep masakan Eropa oleh para wanita ini. Pasalnya, mereka mengetahui berbagai resep masakan Eropa yang biasa dihidangkan untuk suaminya. Sehingga, lambat laun para pribumi lain mengetahui resep tersebut dan menirunya.

Resep masakan Eropa diubah agar sesuai lidah orang Indonesia

Pada masa penjajahan, tidak semua makanan Eropa bisa dinikmati oleh pribumi. Karena itu, mereka harus memodifikasi lagi masakan tersebut. Beberapa bahan diganti dengan bahan lainnya agar sesuai dengan selera dan budaya orang Indonesia saat itu.

Contohnya perkedel yang sebenarnya dibuat dari daging babi dan sapi. Karena orang Indonesia tidak mengonsumsi daging babi, mereka menggantinya dengan kentang.

Kuliner Eropa pertama kali dibawa Belanda saat menjajah Indonesia

Kamu pernah mencoba bistik? Makanan mirip steak ini merupakan kuliner khas Jawa. Namun, makanan ini ternyata hasil akulturasi Eropa.

Kuliner bernuansa Eropa ini mulai muncul semenjak masa penjajahan Belanda. Para penjajah meninggalkan banyak resep makanan Eropa setelah masa kolonial usai. Resep itu pun mulai menyebar dan berkembang di Indonesia sampai sekarang.

Peran jongos di dapur rumah para bangsawan

Selain itu, jongos atau pembantu rumah tangga pun punya andil besar dalam akulturasi kuliner di Indonesia.

Pada zaman penjajahan, banyak pribumi yang menjadi jongos di kediaman para bangsawan Belanda. Mereka bertugas membersihkan rumah hingga menyiapkan makanan untuk majikannya. Tentunya, mereka mengenal betul masakan Eropa yang biasa dihidangkan di meja makan. Karena mereka, banyak resep masakan Eropa yang mulai dikenal masyarakat Indonesia saat itu.

Hingga kini, banyak kuliner khas Indonesia yang diadaptasi dari masakan Eropa.

Konsep rijsttafel dalam penyajian makanan pada zaman kolonial

Pernah liat cara penyajian makanan di restoran Padang? Konsep penyajian itu sama dengan budaya Rijsttafel yang tercipta pada zaman kolonial di mana nasi dan aneka lauk pauk disajikan secara bersamaan di atas meja.

Awalnya, Rijsttafel diciptakan untuk menjamu dan memperkenalkan kuliner Nusantara kepada tamu bangsawan. Hingga kini, konsep penyajian ini dikenal sebagai akulturasi Indonesia dan Belanda.

Itulah fakta menarik tentang akulturasi kuliner Indonesia dan Eropa. Semoga informasi ini bisa menambah wawasanmu seputar kuliner, ya!

Comments are closed.