Rekomendasi Buku tentang Berdamai dengan Kesehatan Mental

Rekomendasi Buku tentang Berdamai dengan Kesehatan Mental

Rekomendasi Buku tentang Berdamai dengan Kesehatan Mental

Rekomendasi Buku tentang Berdamai dengan Kesehatan Mental– adaPada masa lampau, masalah kesehatan mental lah topik yang tabu untuk membicarakan. Untungnya, dalam beberapa tahun terakhir, beberapa orang yang pernah hidup dengan masalah kesehatan mental bisa berbagi pengalaman hidupnya. Artikel ini akan membahas buku yang menjelaskan tentang pentingnya berdamai dengan penyakit mental.

Image result for Rekomendasi Buku tentang Berdamai dengan Kesehatan Mental

Girl Interrupted Susanna Kaysen

Meskipun filmnya, yang membintangi oleh Angelina Jolie dan Winona Ryder, mungkin lebih mengenal, memoar ini memiliki kekuatan yang sama dan bisa mengubah perspektif kamu terhadap penyakit mental. Dalam memoar ini, Susanna Kaysen menceritakan pengalamannya selama satu setengah tahun pada dalam rumah sakit jiwa setelah mengidap gangguan kepribadian. Ia menggambarkan rasa sakit dan kengerian yang mengalami olehnya dan sesama pasien ke sana, yang tentunya berhubungan dengan pergulatan dengan penyakitnya sendiri.

The Man Who Couldn’t Stop David Adam

Melansir dari http://icilachine.com/  juga ditulis sebagai memoar, The Man Who Couldn’t Stop menunjukkan perjuangan hidup penulisnya dengan gangguan obsesif kompulsif (OCD). Tak hanya itu, buku ini juga memasukkan unsur-unsur ilmu pengetahuan dan sejarah. Tentunya untuk memberikan gambaran lengkap tentang bagaimana OCD memengaruhi orang-orang yang mengalaminya dan bagaimana penyakit ini dirasakan dan diobati dari waktu ke waktu.

Wintergirls Laurie Halse Anderson

Wintergirls menceritakan sepasang sahabat bernama Lia dan Cassie yang bersaing untuk menjadi kurus. Sayangnya, Cassie meninggal dalam proses itu di mana kematiannya mulai menghantui kehidupan Lia. Novel ini menceritakan kisah perjuangan melawan anoreksia dan self-harm, dua penyakit yang sering menganggap sepele oleh kita.

The Perks of Being a Wallflower Stephen Chbosky

Novel ini menceritakan melalui sudut pandang sang protagonis, Charlie, yang berhasil melewati tahun pertamanya ke dalam sekolah menengah. Charlie adalah seorang remaja yang canggung, namun pada akhirnya berhasil mendapatkan teman-teman baru. Meningkatkan ke layar kaca pada The Perks of Being a Wallflower berhasil menggambarkan perjuangan Charlie dalam menghadapi PTSD yang idapnya dan bagaimana ia bisa menang dari gangguan tersebut.

Comments are closed.